Uncategorized

let me tell you why I didn’t write for so long

it doesn’t mean I’m giving up to write. But the problem is I don’t have any confidence to write. Actually, I lost it. I don’t have any desire to write. I don’t even have any desire to live. Probably, some part of me was broken. My heart was broken. My soul was broken. My trust and my confidence too. The trigger is simple, small thing but it’s matter. Self-worth.

here’s the story.

Two years ago my aunt introduced a guy to my family, for a good shake and showing that she cares about me. Well, they might be wondering why I don’t have any boyfriend in this age. I almost thirties actually. I didn’t refuse nor excited. No hard feeling and took this moment in easy way. The one who was very excited was my parents. My parents thought this guy was a good guy for me. Long short story, we only had chit chat or a little long conversation but there was nothing serious on our conversation. I tried two times to make a serious conversation. I meant I wanted something clear.  To be honest, I wanna try and put some effort on it without any expectation. That’t why I wanted a mature conversation, how the adult talk about this until they found the clear ending. His father, my parents, even my aunt always asked me our progress. Back then I only said “I don’t know”, because I really didn’t know and I didn’t have any clue where this kind of conversation and relationship will be end. Just let it flow. But I couldn’t deny it, I was wondering all the possibilities in my head. And I am a woman who can feel any emotions. I’m human. I want a certain thing. Deep down inside me, I expected something from this guys (I know it was so stupid, right).

stupidly, something triggered me to tell everything. A middle age woman on the flight told me something very logic. Nothing wrong to tell the truth, nothing wrong if we speak up and tell our feeling. Well, it gave me a courage to tell him about my feeling. I hate to be confused, I hate to live on expectation, I hate to be on uncertainty. I sent him an e-mail, let’s say a confession letter. Please, it was not love letter because I didn’t say I love him and love was not an exact word to describe my feeling. I didn’t expect him to have a feeling like I did. I just wanted to know what will happen after that. I just wanted to open any possibilities and opportunities. Will the situation getting better or probably getting worse??. We will not know if we never tried, right.

one week, no reply.

two weeks, still no reply.

Three weeks, I couldn’t see both his IG story (probably my account was muted or maybe blocked by him) and WA story. I couldn’t find his IG for several days (I know I was foolish for stalking him)

Damn, was I really that annoying?? Did I really annoy him?? I didn’t send thousands, hundreds, dozens, or even several texts to him. Only one email. 

No respond is a respond. No answer is an answer.

I know I asked him not to reply but muted my account or maybe blocked me is another thing.

I felt INSECURE. I was wondering do I really deserve to be treated like this? Like I was nothing. My self-worth like dropped and shattered to the ground.
I wished a gentleman response like “Thank you for having this kind of feeling for me but I’m sorry I don’t feel the same way” or “Thank you, but I’m sorry can we just being friends?”

My negative thought told me that he might be did it because I was that ugly, I might be deserved it, I’m imperfect, I was disgusted. That self-loathing getting worse until I believed that I deserved to be treated like a sh*t like that. I felt like I was unworthy. My job, the books that I read, being kind and a good person, even myself has no value to be treated better than that silent muted blocked treatment.

No body knew how devastated I was back then. I kept it from anyone, include my family. They didn’t know what happened. I kept myself to be busy. Work, work, work and go somewhere. I threw my books, I locked my door, I stayed away from people.

Another thing hit me was how my family responded my silent. It broke me more and my insecurities getting worse. I tried to ignore it but probably it was wrong. I couldn’t sleep for four days then I went to psychiatrist. My mental state getting down then I went to psychologist. A stupid idea sometimes came up to my thought. I felt like I was alone in this world. I lost myself. I lost my desire to live. Every time I woke up I was wondering, why do I have to wake up? why do I have to go to work? why do I have to live this f*cking life? For months I lived like a zombie.

After sinking on the darkness, something brought me to the surface and let me saw the beautiful sunset. It slapped me really hard enough to wake me from the horrible nightmare. It made me realized that everyone deserve to love and to beloved. Sometimes we have to dive to know how deep the ocean can be. Since that day, they took me to the seashore and brought my life back. Slowly but sure, my life getting better. more more more way better. I can sleep sound and safe. I start to read again. I update my wattpad. I write on my blog again. I start to reach people again. And I want my life better and getting better. 

After this horrible nightmare, I promise to treat others like I wanna be treated. I’ll do my best to be good. I’ll do my best to speak my thought so people will understand even they don’t but at least I let people know what is on my head. I understand that a small thing we do have influence to other. Although the effect is not significant, but remember a small thing we do always effect others. So, do good and do good because our silent can break people’s worth.

Standard
Personal Stories

Minimalism

Minimalism atau gaya hidup minimalis. Mungkin banyak diantara kalian sering mendengar kata ini dan sudah tidak asing lagi. Sering kita menemukan dalam majalah-majalah interior design atau gaya bangunan jaman sekarang. Bisa kita kaitkan dengan hal-hal yang sederhana. Tapi perlu kalian ketahui, minimalis bukanlah hanya sekedar gaya yang sederhana tetapi lebih dari itu. Bukan hanya sebuah design bangunan atau interior sebuah rumah. Minimalism is the way of life, cara untuk menjalani sebuah kehidupan.

Saya mulai membaca buku tentang hidup minimalis, beberapa diantaranya adalah Goodbye Things oleh Fumio Sasaki dan The More of Less oleh Joshua Backer. Keduanya bercerita bagaimana mereka memulai untuk hidup minimalis dan apa yang mereka dapatkan setelah menjalani hidup sebagai minimalis. Dan yang paling terkenal, jika kalian ingin belajar hidup minimalis, adalah The Minimalist yang dicetuskan oleh Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus. Pada intinya hidup minimalis adalah tantang memaknai kehidupan kita, bagaimana kita menjalani kehidupan kita agar semakin bermakna dengan melepaskan hubungan dengan barang-barang yang kita miliki dan hidup dengan barang-barang yang kita perlukan saja.

Minimalism is a lifestyle that helps people question what things add value to their lives. By clearing the clutter from life’s path, we can all make room for the most important aspects of life: health, relationships, passion, growth, and contribution

the minimalist, Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus

Kenapa saya bahas minimalism? karen saat ini saya sedang tertarik dengan salah satu lifestyle ini. Selama ini saya selalu mencari apa makna hidup yang saya jalani saat ini. Apakah untuk menjadi seseorang yang sukses? dimana makna sukses itu sendiri memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Apakah untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan dangan jenjang karir yang bagus dan gaji yang besar?. Apakah untuk memiliki rumah besar, mobil keren, memiliki banyak barang, atau mengenakan pakaian, tas, dan sepatu bermerk lengkap dengan perhiasan mahal?

Saya bukan orang kaya, masih tinggal menumpang di rumah saudara. Tapi ketika berpikir untuk pindah ke kosan, saya pusing sendiri karena barang saya cukup banyak untuk dikemas, dan berakhir untuk menunda pindah. Buku (paling banyak), baju, peralatan dapur (personal blander, setrika, kipas angin, tumbler, toples, meal box), meja belajar, rak skincare beserta isinya. Dan ketika saya periksa kembali barang-barang saya, ternyata banyak sekali barang-barang yang tidak penting bahkan tidak pernah saya pakai seperti aksesoris, beberapa notes yang saya beli karena terlihat lucu saat itu, baju-baju hasil belanja online yang ternyata ketika dipakai tidak cocok dengan bentuk badan saya, buku-buku yang terlihat “keren” tapi belum sempat saya baca, skincare yang kata beauty blogger bagus untuk kulit kombinasi seperti saya tetapi ketika dipakai malah tidak berpengaruh atau breakout, tumpukan goody bag yang saya kumpulkan karena berpikir “mungkin suatu hari nanti saya butuh untuk mengantongi belanjaan atau baju-baju kotor ketika bepergian”, beberapa potong kaos kumal tapi tetap saya pakai karena nyaman untuk dipakai tidur, 12 pasang kaos kaki yang sudah jarang dipakai karena melar, kardus kemasan gadget karena berpikir “suatu hari nanti jika saya ingin menjual kembali gadget saya” padahal tidak pernah dijual kembali, beberapa race pack dan medali lari, dan masih banyak lagi.

Sebelum mengenal minimalism, saya mulai mengeluarkan dan membuang barang-barang lama yang sudah tidak layak dan jarang saya pakai karena terinspirasi dari buku yang ditulis Marie Kondo, ‘The Life Changing Magic of Tidying Up’. Dari tujuh tas kerja yang saya punya saya kurangi menjadi empat. Kaos-kaos kumal, pakaian yang sudah lama, sepatu-sepatu yang sudah lama dan jarang dipakai saya buang (literally, beberapa dijadikan lap dan sebagian dibawa oleh ART karena kondisinya masih bagus). Mungkin terkesan mubazir, tapi lebih mubazir lagi kalau masih saya simpan dan tidak saya gunakan sama sekali. Setidaknya masih berguna bagi orang lain. Kemudian saya pun mulai memilah mana make up yang sering saya pakai untuk sehari-hari dan mana yang tidak saya pakai, begitupun dengan skincare. Kalau yang ini saya bagikan kepada teman dan ART yang memang biasa pakai. Rasanya kamar lebih lapang, tetapi merasa belum puas karena meskipun sudah dirapikan tetap saja kembali berantakan. Lalu, pada suatu hari saya melihat buku Fumio sasaki dan iseng membelinya. Tanpa saya sangka buku ini memiliki pengaruh yang cukup besar pada pola pikir saya. Kemudian saya membaca beberapa tulisan di blog The minimalist dan menonton vlog Matt D’Avella di youtube tentang minimalism. Bahkan saat ini saya sedang menunggu buku ‘Digital Minimalism‘ yang ditulis oleh Cal Newport untuk memperkaya pengatahuan saya tentang minimalism. Saya begitu bersemangat untuk mengurangi barang-barang saya terutama koleksi buku saya. Setelah ini saya masih berencana mengurangi buku dan pakaian saya. Kalau bisa ketika saya pindah cukup bawa 4 koper; buku dan pakaian masing-masing satu koper besar, untuk sepatu dan tas cukup satu koper sedang, sedangkan skincare cukup satu koper kecil.

Saya adalah seorang INFJ, orang introvert yang kepribadiannya (katanya) paling sedikit populasinya, hanya 2% dari penduduk dunia dan paling sulit dimengerti oleh orang lain. Saya tidak suka dengan keramaian dan lebih senang berada di rumah, idealis dan rentan terkena depresi. Saya selalu bertanya-tanya untuk apa saya hidup dan bagaimana saya harus menjalani hidup, tak jarang saya membandingkan diri saya dengan orang lain. Hidup saya, secara mental, mulai berantakan sejak tahun 2017 dan saya berada di titik tidak memiliki semangat untuk menjalani kehidupan saya. Bahkan ketika bangun pagi saya selalu bertanya, “kenapa saya harus bangun pagi? kenapa saya harus bekerja?”. Saya selalu berusaha mencari cara bagaimana bangkit dari depresi yang saya derita dan kembali menjalani hidup saya dengan penuh semangat.

Saya merasa beruntung dan mulai tercerahkan dengan ide minimalism. Saya mulai mendapat jawaban dari pertanyaan yang selalu ada di kepala saya. Percaya atau tidak hidup saya mulai terarah dan mulai bersemangat untuk kembali menjalani hidup saya. Dengan mengeluarkan barang-barang yang tidak penting, hidup saya mulai terasa lebih ringan. Less stress. Saya mulai mengetahui apa yang sebenarnya saya butuhkan dan apa yang tidak begitu saya butuhkan. Hal ini juga tanpa disadari berkaitan dengan cara saya mengeluarkan uang, Kebutuhan vs Keinginan, seperti yang saya tuliskan pada halaman sebelumnya. Saya biasa jalan-jalan sendiri ketika merasa bosan dan selalu berujung pada membeli barang yang tidak jelas. Dengan semangat minimalism, hal itu sudah bisa saya atasi. Ya, untuk apa saya memiliki banyak barang tapi tidak punya uang (uang yang dimiliki sudah berubah menjadi barang). Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Setidaknya, jika sesuatu terjadi saya tidak akan bingung karena memiliki cukup tabungan.

Bagi saya kebebasan adalah suatu pencapaian yang paling besar. Kebebasan ruang, waktu, finansial, dan bebas dari keterikatan dengan perasaan yang tidak penting, misal merasa rendah diri karena pencapaian saya saat ini. Bebas dari perasaan yang tidak menyenangkan adalah kebahagiaan sejati. Mungkin, minimalism juga salah satu cara untuk mendapatkan kebebasan itu. Kebebasan ruang karena tidak banyak barang di sekeliling saya dan saya bisa pergi kemanapun tanpa mengkhawatirkan barang yang saya bawa atau saya tinggalkan di rumah. Kebebasan waktu karena saya tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk merapikan kamar saya yang penuh dengan barang atau untuk mengurus barang-barang yang saya miliki. Kebebasan finansial karena saya bisa lebih berhemat dengan tidak belanja banyak barang. I can save more money and allocate it to the things I really need with a better quality. Dengan kebebasan finansial saya pun bisa pergi kemana pun yang saya inginkan.

Bagi saya, menjadi minimalis adalah sebuah perjalanan dimana saya masih mencari bentuknya seperti apa. Karena setiap orang memiliki cara sendiri untuk menjalani kehidupan minimalisnya. Bagi saya hidup minimalis bukan berarti tidak memiliki barang sama sekali, tetapi merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Bukankah suatu hari nanti saya akan pergi meninggalkan dunia ini hanya dengan sehalai kain putih?. Saya menuliskan halaman ini untuk berbagi kepada kalian tentang apa yang saya lakukan. Setelah beberapa bulan ini kembali dilanda depresi, akhirnya bisa menemukan kembali jalan untuk bangkit. Mencoba pelan-pelan untuk menata kembali pola pikir saya yang sering kali kontradiktif dengan kebanyakan orang. Jika teman-teman penasaran dengan isi buku yang saya baca tentang minimalism, setelah ini saya akan menuliskan review beberapa buku untuk membantu teman-teman yang penasaran isi bukunya seperti apa.

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba 🙂 

“Someday. It’s all about time. No matter what people think about me, it’s okay. It will be worth”

Bintan
Standard
Travel

First Trip to Singapore

On this page I just want to share some pictures when I was in Singapore for the first time at 2018 (yes, it’s a year ago). Actually I don’t like being photographed so many of them are only scenery at the city. I took many pictures but only a few of them are good (thanks for the camera who took the picture very well). I mean, I’m not a photographer so it might be not good technically. Last year, I wanted to share about my first trip to Singapore but I procrastinated, too lazy actually hehehe.

an alley around hajj lane

I fall in love to this city because the vibe is really good for me. The air is humid, warm, and less pollution (compare to Jakarta). Everything is organized well and very clean. The thing I really love the most about Singapore is the sidewalk. It is clean, wide, and safe so I can walk comfortably.

The sidewalk in front of a building

Later, I should take some photos the public transportation like MRT, taxi, and the bus. It is very comfortable and accessible. In Singapore, It also has Grab so you don’t have to worry if you don’t know the route and want to commute very comfortably, even now it has Gocar too, but both apps charges less expensive than MRT even still cheaper than taxi. So it depends on your budget. The price of MRT for one way ticket is 1-2 SGD, if your trip is only one station it less than 1 SGD. FYI, there is also mobile application for the taxi in Singapore so you can easily order for your trip. If you stay at five star hotel, the hotel provide smartphone for each room which you can take everywhere (as long as you give it back) with internet access facility, so you don’t need roaming package for your smartphone.


Another alley in Hajj Lane
The other alley in Hajj Lane

Another thing about this city is Languages. You might heard about Singlish, Singapore English. It how Singaporean speak English mixed with Chinese and Malay. That’s so unique. Singapore is also a multi culture country because you can find people from many countries like India, Indonesia, China, Pakistan, and many more everywhere you go. You can also taste the different food from all over the world especially in Hajj Lane. There are many cafes that serves special menus from various country.

Somewhere in Marina

As you know the iconic landmark in Singapore is Merlion, combination mermaid and lion, Statue. Actually I took some pictures in Merlion but I didn’t get a good angle to take the picture because it was so crowded. If you go here on the weekend, the park will be so crowded because many tourist come here. Moreover, you can walk or rent bicycle to go around Marina from the Merlion Statue. But, if you want to ride bicycle you have to pay by electronic money with some application which is uncomfortable for the tourist. You can see the Singapore Flyer, National Stadium, Marina Bay Sand, and Art Science Museum building from here.

Taken from somewhere to avoid the crowded
The bicycle with the fancy way to rent

If you want to walk around in Singapore city, you have to prepare the water bottle. Moreover the weather is warm and humid so you have to stay hydrate. If you are Indonesian, be prepared guys because the price a mineral bottle is more expensive than a can of soda. In Indonesia, we can buy easily a mineral bottle with the cheap price, only 3.500 IDR for a 600 ml mineral water. In Singapore, you have to spend at least 1,5 SGD or 15.000 IDR for a 600 ml mineral water. Some hostel sell it in cheaper price at certain hours (in my second trip, my hostel sell a bottle for 0,5 SGD from 7-9 a.m).

In a bridge head to Marina to see Merlion
Another spot you can see in the way to the Merlion

Even a small country, Singapore has many places to be visited. Because it is a multi culture country, Singapore also has China Town, Little India, Bugis Street, Mesjid Sultan and many more. You can see the different culture here. The view in the night is also beautiful. FYI, it is connected with a wide lane from Merlion, art science museum, double helix bridge, and Marina Garden by The Bay. Many people exercise or just for hang out in the evening around there.

A line of hostel with a cafe in Chintown
A night view from double helix bridge

My first trip to Singapore is not to visit a tourist attraction like Universal Studio or Garden by The Bay. I walked around the city, visit a free landmark and eat like a local. I see people jogging in the morning and social interaction in the evening. I learn how they respect each other with different race, nationality, and language. I learn how they discipline on the public place, stand on the left side when they are in escalator, waiting in a line, many sign and information, how they keep the place clean, no smoking people in the public place. It feels like I found the ideal place to live.

A view from overpass
Sentosa island from Vivo City

My Second trip to Singapore is on January 2019 and I will share it later. It was a different trip because I went there to see a concert. I still in love to this city and I still want to walk around, visit another place I’ve never been before. Thank you for reading and scrolling until the last paragraph. 🙂

*pardon for my bad grammar :))

Standard
Personal Stories

Mencintai Diri Sendiri

I’m the one I should love in this world
Shining me, precious soul of mine
I finally realized so I love me
Not so perfect but so beautiful
I’m the one I should love

— Epiphany

Lagu itu saya putar berulang sambil memandang langit senja dari jendela bus APTB tujuan Bogor. Mungkin kalian pernah mendengarnya atau bahkan salah satu penggemar penyanyinya. Tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini. Kali ini saya ingin membahas tentang mencintai diri sendiri.

Memang terdengar narsis dengan kata ‘mencintai diri sendiri’, tapi ketahuilah tema ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan di berbagai belahan dunia. Bahkan salah satu boyband pun mendapat pujian dari warga dunia karena membuat lagu-lagu yang bertemakan ‘mencintai diri sendiri’. Sepenting itu kah mencintai diri sendiri?

Kalau kalian bertanya bagaimana caranya? Silahkan kalian buka gugel dan carilah di sana. Banyak artikel yang membahasnya, mulai dari segi fisik hingga ke jiwa/mental. Karena saya pun masih proses memahami ini. Masih mencari tahu apa itu ‘mencintai diri sendiri’, apakah selalu berolahraga dengan rutin dan memakan makanan organik? atau mengatur pola hidup saya yang lebih sehat? rajin melakukan perawatan tubuh dan wajah?. Saya rasa lebih dari itu. Bahkan untuk menyadari betapa pentingnya olahraga dan memakan makanan sehat saja sangat sulit bagi orang pemalas seperti saya.

Mungkin harus mencari akar dari semua ini. Tidak hanya bagaimana tetapi mengapa. Mengapa saya harus mencintai diri saya sendiri? Bukankah itu terdengar terlalu egois?.

Lalu saya mulai membuka-buka artikel tentang topik ini. Banyak dari artikel yang menyatakan hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima diri sendiri. Accept who you are and respect who you are. Kurang lebih begitu, tapi kembali saya bertanya, kenapa saya harus menerima diri sendiri apa adanya dan kenapa saya harus menghormati diri sendiri? Apakah selama ini saya tidak menerima diri saya sendiri? Dan apakah selama ini saya kurang menghormati diri saya sendiri?. Tak jarang saya mendengar “Kalau bukan diri kita sendiri siapa lagi yang mau menerima diri sendiri apa adanya?”.

Selanjutnya sebuah artikel menyatakan harus melakukan positive self affirmation, setiap hari mengatakan hal-hal positif kepada diri sendiri. Kalau perlu di depan cermin. Si pemalas seperti saya tidak mau repot-repot melihat cermin dan bicara pada diri sendiri. Kadang melihat muka saya yang pas pasan dan bulat seperti bakpao membuat saya tak bersemangat.

Lalu ada yang mengaitkan self love dengan self care, merawat tubuh dan memanjakan tubuh seperti skin care routine dan berolahraga. Perlu saya akui ini memang menyenangkan, merawat tubuh dan berlari setiap pagi sangat berpengaruh untuk stamina sehari-hari. But it didn’t work well for this lazy hooman like me. Setelah seminggu kembali ke kebiasaan lama. Skin care yang simple dan berolahraga semaunya.

Saya tidak mengatakan bahwa apa yang dituliskan itu salah. Seperti yang saya katakan sebelumnya, konsep mencintai diri sendiri itu bukan hanya bagaimana. Seperti memasak, banyak panduan cara memasak sup yang enak. Bahan-bahannya pun mudah ditemukan. Meskipun takarannya sudah mengikuti petunjuk yang dituliskan dalam buku masak, tetap saja rasanya kurang pas di lidah. Ya, karena selera saya dengan selera pembuat resep tidak sama. Saya menyukai makanan yang lezat dan gurih dengan MSG, tapi pembuat resep adalah orang yang meyakini bahwa MSG itu tidak baik.

Menurut saya mencintai diri sendiri itu suatu seni yang perlu eksplorasi. Karena sejatinya setiap diri adalah hutan belantara yang tidak pernah saya ketahui bentuknya. Setiap diri punya jalan yang berbeda dan arah yang berbeda untuk membuka jalan menuju kedalaman diri. Mengenal lebih dalam siapa diri saya sebenarnya dan bertanya kepada diri sendiri jauh lebih dalam. Apa yang saya inginkan? Apa yang saya butuhkan? Apa yang membuat saya bahagia? Apa yang membuat saya terluka? Apa kelemahan saya? Apa yang bisa saya jadikan sumber kekuatan saya? Apa yang membuat saya bisa evolve dan menjadi orang yang lebih baik lagi?. Tidak serta merta saya berdiri di depan cermin lalu berkata “I am beautiful, I am worth, and I am enough” tanpa tahu mengapa saya harus mengatakan hal itu kepada diri sendiri.

Mungkin tulisan saya akan dicaci maki oleh orang-orang yang berhasil melakukan semuanya untuk mencintai diri sendiri. Mungkin juga perbedaan konsep tentang mencintai diri sendiri membuat saya terlihat bodoh dan kurang memahami apa itu mencintai diri sendiri. Tapi bagi saya, mencintai diri sendiri itu sebuah proses. Kadang saya gagal dan jarang berhasil. Seperti menjalin dalam sebuah hubungan pada umumnya. Menjalin hubungan dengan diri sendiri pun sering menemui kesalahpahaman. Sering menemui konflik batin yang membuat saya sering bertanya-tanya apakah ini benar atau salah?. Apakah yang saya lakukan terhadap diri saya ini merusak atau malah membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik?. Saya seharusnya melakukan ini tetapi fisik saya melakukan itu. Selalu bertentangan antara yang diinginkan dengan yang seharusnya.

Lalu, apakah saya berhasil mencintai diri saya sendiri? Saya belum bisa mengatakan ini berhasil, tapi saya sedang melakukannya. Sedikit demi sedikit. Mencoba mengenal kembali diri saya yang sebenarnya dan berdamai dengan diri saya sendiri. Bereksplorasi dan mencari tahu bentuk ‘mencintai diri sendiri’ versi saya sendiri. Dan itu sangat menyenangkan.

Tulisan ini akan saya akhiri dengan sebuah lirik. Ingat, cintailah diri sendiri dengan caramu sendiri. Karena saya dan kamu adalah orang yang berbeda meskipun kita sama-sama manusia. Kenali dirimu lebih dalam lagi dan pahami dirimu lebih jauh lagi. Saya tidak mau menyesatkanmu dengan cara saya.

I’m opening my eyes in the darkness
When my heartbeat sounds unfamiliar
I’m looking at you in the mirror
The fear-ridden eyes, asking the question
Loving myself might be harder
Than loving someone else
Let’s admit it
The standards I made are more strict for myself
The thick tree rings in your life
It’s part of you, it’s you
Now let’s forgive ourselves
Our lives are long, trust yourself when in a maze
When winter passes, spring always comes

— Answer : Love Myself

Standard
Personal Stories

Kebutuhan vs Keinginan

Konsep ini pertama kali saya dengar dari seorang master coach. Saat itu beliau sedang mengisi sebuah business class di Jakarta Selatan. Beliau menjelaskan tahap pertama untuk mengelola keuangan pribadi adalah memisahkan mana kebutuhan dan keinginan. Sungguh konsep yang sangat sederhana yang ia ambil dari tulisan Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad. Seperti yang dituliskan dalam bukunya, setelah Ia mencoba untuk mengubah mindset tentang uang pada bab pertama, langkah pertama yang dilakukan untuk menjadi kaya adalah mengtahui mana yang dikategorikan ke dalam kebutuhan kita dan mana yang dikategorikan dalam keinginan kita.

Setelah mengenal konsep ini, saya mencoba untuk mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Sudah saya bilang, ini adalah konsep yang sangat sederhana. Ya, hanya memisahkan mana kebutuhan dan keinginan. Tetapi, percayalah ini sangat sulit untuk saya lakukan. Apalagi seorang perempuan yang sudah bisa mencari uang sangat mudah terayu diskon, dari mulai tas, baju, sepatu, gadget, make up, bahkan skin care sekalipun.

Dulu saya orang yang boros, tak jarang membeli barang karena lapar mata dan berujung di “kotak sampah”. Koleksi make up dari mulai bedak, foundation, lipstick, lip cream, eye shadows, dan masih banyak lagi, yang ternyata jarang saya pakai. Tak hanya make up, tak jarang saya beli baju yang ketika saya pakai di rumah tidak pede ketika mencobanya atau kekecilan. Lalu, mengikuti trend hijab pada masanya dengan membeli beberapa hijab seharga 200 ribu (menurut saya itu mahal untuk sebuah hijab) dan ketika di pakai tidak cocok dengan warna kulit, akhirnya ibu saya yang mengambilnya. Kebiasaan saya yang senang pergi sendiri juga membuat pengeluaran tak terkendali, misalnya duduk-duduk di sebuah kafe dan membeli segelas kopi yang seharga 60 ribu atau membeli makanan satu porsi 50 ribu padahal di kaki lima bisa di dapatkan hanya dengan 20 ribu.

Perlahan saya mencoba memilah pengeluaran berdasarkan dua kategori tadi, kebutuhan dan keinginan. Ketika saya melihat sebuah barang di toko dan berhasrat untuk membelinya, saya mulai bertanya kepada diri saya sendiri. Apakah itu kebutuhan? Atau keinginan?. Kebutuhan adalah sesuatu yang jika saya tidak miliki, saya tidak akan bertahan hidup. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang jika saat ini saya tidak miliki, tidak akan terjadi hal apa pun pada diri saya dan saya akan tetap hidup meskipun tidak memiliki barang itu. Jika itu adalah kebutuhan, maka saya akan membelinya. Jika itu ternyata keinginan, saya memilih menjauh dari toko itu dan berusaha tidak melihat-lihat. Percayalah, godaan untuk melihat-lihat sangat besar, saya yakin dari pengunjung toko yang mulanya hanya ingin melihat-lihat saja, berujung membeli sebuah barang. Apalagi jika kalian adalah tipe orang seperti saya, ketika ada barang yang diinginkan kalian akan ingat terus dan baru akan tenang jika sudah memilikinya.

Apakah metode ini berhasil? Saya bisa bilang belum berhasil, but it works. Mungkin ada di antara kalian yang sudah berhasil dan cepat beradaptasi dengan kebiasaan baru. Tetapi saya butuh waktu dan proses. Sekali lagi, konsep sederhana ini tidak mudah bagi saya. Bagaimana saya bisa mengatakan ini mudah jika yang saya lakukan adalah melawan diri saya sendiri. Bahkan proses ini masih berjalan. Tak jarang saya tergoda dengan diskon, potongan harga, atau gimmick produk yang ditawarkan sebuah toko, ditambah lagi jika barang itu saya sukai. Tetapi, hasrat untuk belanja dan menghabiskan uang tak jelas —hedon— ini sudah semakin terkendali.

Untuk bisa mengatur pengeluaran berdasarkan kebutuhan dan keinginan, tentunya kita harus memahami diri kita sendiri. Paham mana yang menjadi kebutuhan kita dan mana yang menjadi keinginan kita. Tentunya, kebutuhan dan keinginan setiap orang berbeda, tidak bisa kita samakan. Bisa jadi keinginan kita adalah kebutuhan bagi orang lain, atau kebutuhan kita hanya menjadi keinginan orang lain. Ya, segelas kopi seharga 60 ribu bagi saya mungkin itu keinginan, toh saya bukan pecinta kopi dan bagi saya harga secangkir kopi 60 ribu adalah mahal. Mungkin saja kopi yang sama yang saya inginkan adalah kebutuhan bagi orang lain dan bagi dia 60 ribu untuk secangkir kopi adalah murah.

Setelah mengeluarkan effort untuk mengatur pengeluaran saya, memilah mana kebutuhan dan mana keinginan, dan mengendalikan hasrat untuk belanja, banyak hal yang saya pelajari ketika menjalani proses ini, diantaranya:

1. Mengelola ketamakan diri

Tamak sudah menjadi sifat dasar manusia. Setiap orang tamak — istilah kerennya greedy — selalu ingin mendapatkan hal yang lebih besar, lebih banyak, lebih untung. Namun, banyak juga dari mereka pandai mengatasinya. Jika ayahmu menawarkan uang saku lebih besar, pasti kamu tidak akan menolaknya, bukan?. Atau, ketika kamu ditawarkan pekerjaan yang gajinya 10 kali lipat dari pekerjaan sekarang, hasrat kamu untuk menerima tawaran itu semakin besar, kan?. Pernah melihat ibu-ibu belanja di pasar? Mereka pasti menawar sayuran yang dijual dengan harga yang murah, atau mungkin kamu pernah mengalaminya sendiri berjibaku dengan abang-abang sayur di pasar hehe. Saya pun selalu ingin mendapatkan bonus yang banyak, gaji yang besar, dan jika membeli barang ingin mendapatkan potongan harga yang besar juga. Tidak perlu malu untuk mengakuinya, kita memang tamak.
Mengetahui seberapa besar hasrat kita untuk membelanjakan uang pada suatu barang, membuat kita tahu seberapa besar ketamakan diri kita. Semakin besar hasrat tersebut, semakin tamak diri kita. Dengan mengendalikan hasrat berbelanja, artinya kita sedang melawan diri sendiri untuk mengendalikan ketamakan diri. Dengan menahan dan memadamkan hasrat berbelanja barang yang ada dalam daftar keinginan kita, potensi kita untuk tidak menghabiskan uang pada barang yang tidak berfaedah semakin berkurang.

2. Belajar untuk bersyukur dan merasa cukup

Coba kalian tulis dalam sebuah kertas daftar kebutuhan, daftar keinginan, dan daftar barang-barang yang kalian miliki. Sungguh mengejutkan daftar keinginan kita lebih banyak dari daftar kebutuhan dan daftar barang-barang yang kita miliki. Dan saya yakin daftar keinginan kita lebih banyak berisi barang-barang yang memiliki unsur kemewahan, seperti gadget terkini, baju bermerek, sepatu bermerek, tas bermerek, jalan-jalan ke luar negeri atau mungkin sebuah tumbler limited edition 😌. Tenaaang, saya pun begitu hehe.
Setelah saya telaah kembali ketiga daftar tersebut, saya menyadari ternyata apa yang saya inginkan sudah saya miliki tetapi dalam kondisi yang berbeda. Ya, barang yang saya inginkan memiliki fungsi yang sama dengan barang yang sudah saya miliki, tetapi lebih bagus dan lebih keren. Jujur, sampai detik ini saya menginginkan sebuah sepatu ultra boost yang harganya cukup mahal. Padahal saya sudah memiliki beberapa sepatu olah raga yang bagus. Bukankah sama-sama sepatu yang fungsinya sama?. Tapi apakah hasrat saya untuk membelinya sangat besar? tidak. Biasa saja. Bahkan kalau memang tidak bisa saya beli ya sudah. No hard feeling :). Kuncinya adalah bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki saat ini.
Memang hidup di jaman serba mengikuti trend itu tidak mudah, tapi bukankah itu pilihan kita untuk mengikuti trend saat ini atau tetap menjadi diri kita sendiri dengan apa yang kita miliki. Toh kebutuhan dasar kita sudah terpenuhi. Kita tidak berada dalam kondisi peperangan atau kelaparan. Kalian boleh khawatir jika untuk memenuhi kebutuhan dasar saja mengalami banyak kesulitan. Bahkan mungkin tidak terpikirkan untuk mengatur pengeluaran dengan cara ini.

3. Mengetahui prioritas

Ketika kita sudah mengetahui mana kebutuhan dan mana keinginan, kebutuhan menjadi prioritas kita. Ketika dihadapkan pada pilihan, misalnya, membeli sepatu ultra boost atau sepatu kerja (sepatu kerja satu-satunya sudah rusak dan tidak ada lagi pengganti), maka saya akan memilih untuk membeli sepatu kerja. Artinya, Saya sudah tidak bingung lagi mana barang yang harus dibeli terlebih dahulu. Mengetahui prioritas juga mengurangi potensi kita membelanjakan uang dengan percuma. Mengetahui prioritas juga mengajarkan saya untuk mengatur pengeluaran sehari-hari dengan bijak.

Seperti yang saya katakan, saya pun masih dalam proses membiasakan diri untuk mengontrol pengeluaran. Saya masih dalam proses untuk memisahkan mana kebutuhan dan mana keinginan. Saya masih berproses dalam mengendalikan ketamakan diri saya dan membiasakan diri untuk bersyukur dengan apa yang saya miliki. Saya sadar, hidup itu penuh dengan ketidakpastian. Mungkin saat ini saya punya pekerjaan dengan gaji yang cukup, besok lusa saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya. Oleh karena itu, mengelola keuangan pribadi saya itu penting. Sangat penting malahan. Mungkin banyak orang yang menyangka gaji saya besar (semoga, amiin), bisa jalan-jalan, atau berbagi kepada sodara. Tapi ketahuilah, kenyamanan yang saya dapatkan tentunya sebanding dengan apa yang saya korbankan. Dan setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda, prioritas yang berbeda, dan menghabiskan uang di area yang berbeda. Ada orang yang senang membeli pakaian, tas atau sepatu. Uang yang mereka habiskan lebih banyak di barang-barang tersebut, sebagai gantinya mereka tidak sebebas saya untuk jalan-jalan. Katakanlah saya lebih senang menghabiskan uang untuk traveling dan buku. Jangan ditanya, baju saya tidak banyak, sepatu dan tas yang saya pakai itu-itu saja. Ada juga orang yang memang memiliki kelimpahan uang sehingga mereka bisa membeli baju-baju bermerek, sepatu jutaan rupiah, atau tas-tas yang ada di dalam majalah. Tetapi itu sudah lain cerita. Kebutuhan dan keinginan mereka juga berbeda. Saya hanya ingin belajar untuk membeli barang sesuai dengan kemampuan saya, menghabiskan uang dengan bijak, dan mengelola keuangan pribadi saya dengan baik.

Bukan seberapa banyak uang yang Anda hasilkan, tapi seberapa banyak uangan yang Anda simpan

Rich dad Poor Dad, Robert T. Kiyosaki

Semoga kalian terinspirasi dengan tulisan saya :). Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di komentar.

Selamat mencoba dan jangan menyerah !!

Standard
Personal Stories

Opini#2 – Diperlakukan Berbeda

Suatu hari saya berjalan-jalan ke sebuah mall di Kota Bogor. Saat itu saya menggunakan pakaian yang sangat santai, tanpa make up, dan hanya membawa tas ransel satu-satunya yang biasa saya pakai untuk kerja. Kemudian saya masuk ke sebuah toko baju dan melihat-lihat siapa tau memang ada yang cocok. Saat melihat-lihat kemeja di salah satu booth, seperti biasa SPG di sana menawarkan produknya dengan mengiming-imingi diskon dan pada saat itu saya menolak dan menjawab, “maaf mba, saya lihat-lihat dulu yaa”, kemudian dia mendecak dan pergi. Saya juga pernah mengunjungi sebuah mall di Jakarta, saat itu memang berniat untuk membeli atasan (jika ada ukuran saya) dan tas (yang modelnya saya suka), tapi karena penampilan saya yang sangat-sangat sederhana (tidak meyakinkan), tak ada satu pun SPG yang mendekati saya saat itu.

Saya pernah berada di suatu tempat di mana saat itu sedang berkumpul ibu-ibu sosialita, dan tidak sengaja saya mendengar percakapan mereka. Sayangnya mereka bergosip, membicarakan sesuatu yang tidak berfaedah. Pernah juga saya mengantri di ATM, lalu seorang bapak-bapak berpenampilan perlente (saya sih bisa tebak dia orang kaya melihat dari jam tangan, gadget, dan kunci mobil yang dia bawa) menyela antrian dan merasa dia berhak melakukan transaksi duluan.

Mungkin kalian pernah mengalami kejadian yang sama atau mungkin kejadian lainnya ketika kalian mendapatkan perlakuan dari orang lain karena penampilan kita tidak meyakinkan atau memang karena kita orang biasa-biasa saja jadi orang lain yang merasa berada “lebih atas” bersikap seenaknya terhadap kita. Atau kalian pernah mengalami suatu kejadian yang membuat kalian tau bahwa sesuatu yang nyata itu tidak seindah dengan ekspektasi kalian.

Kelas. Kasta. Golongan. Apapun itu istilahnya, Saya tidak begitu suka dengan hal semacam itu. Seperti mengkotak-kotakan sekelompok orang. Apalagi ketika kelas dijadikan suatu landasan untuk memperlakukan orang. Saya rasa setiap orang berhak untuk dihormati. Setiap orang berhak untuk dihargai. Dan setiap orang berhak untuk mendapatkan perlakuan baik. Siapapun mereka.

Orang yang berpendidikan tinggi belum tentu lebih baik dari seseorang yang hanya lulusan SD. Orang yang berlimpah materi belum tentu lebih baik dari seseorang yang hanya bekerja sebagai supir angkot. Ya, memang bisa jadi kehidupan mereka lebih baik, tapi bukan berarti seseorang yang “lebih baik” ini berlaku kasar dan tidak adil kepada orang yang kurang beruntung. Karena seberapa besar perbedaan seseorang, sejatinya mereka, kita, adalah sama, manusia.

Mungkin tanpa sadar saya pernah memperlakukan seseorang dengan berbeda. Karena dia bos saya, mungkin. Atau karena dia adalah seseorang yang saya segani. Atau, seseorang yang saya rasa mengancam kehidupan saya, bisa jadi saya memperlakukan mereka berbeda. Siapa pun, mungkin saya pernah memperlakukan mereka dengan berbeda.

Tetapi ada hal yang selalu saya ingat, perlakukan seseorang seperti Saya ingin diperlakukan oleh orang lain. Saya tidak suka antrian saya disela orang, maka saya tidak akan mnyela antrian orang. Saya suka diperlakukan ramah oleh orang lain, maka saya harus berlaku ramah kepada orang lain. Meskipun saya masih harus belajar banyak bagaimana memperlakukan orang lain selayaknya saya ingin diperlakukan. 🙂

Standard
Personal Stories

Opini#1 – Nyinyir

Kali ini aku akan beropini tentang budaya nyinyir para netizen di dunia maya yang senang menghujat tanpa etika.
Ketika semua orang fokus pada acara Opening Ceremony Asian Games 2018, banyak orang yang memperdebatkan aksi stuntman pak Jokowi. Lucu lagi pas salah satu akun gosip ter-hits memposting tentang kehamilan artis cantik Raisa yang perutnya sudah terlihat membesar ikut dikomentari dengan nada nyinyir.
What is going on with our country?
Yang aku amati, urusan nyinyir menyinyir ini dimulai ketika pilpres 2014 lalu yang membagi semua warga menjadi dua kubu. Supporter Vs Haters. Selain itu, mengomentari berbagai masalah didukung dengan kemajuan media sosial yang sudah bisa diakses semua golongan dari yang muda sampai yang tua, dari golongan bawah, menengah, sampai golongan atas pun memiliki akun medsos. Setiap orang berpendapat sesuka hati tanpa memikirkan dampaknya, bahkan mengenyampingkan etika berpendapat “toh itu akun gue, jadi terserah gue mau nulis apa”. Dan semenjak itu kita bisa lihat dengan jelas sejauh mana mental orang-orang di negara kita dan bagaimana pola pikir mereka. Semua orang mendadak jadi politikus, mendadak jadi ekonom, mendadak jadi komentator-komentator yang menurut aku tidak berkualitas. Justru malah memperlihatkan kemampuan (maaf) otak mereka dalam berpikir.
Misalkan, ketika harga BBM naik, mereka nyinyir dan menuduh bahwa presiden tidak becus mengurus negara. Yes, siapa sih yang suka dengan kenaikan harga. Gaji yang didapat tetap sama tetapi harga-harga barang meningkat. Tetapi, kalau kita memang tidak setuju dengan kenaikan harga BBM (atau kebijakan pemerintah lainnya) dan punya pendapat yang berbeda, I will appreciate if you deliver your opinion with supporting data and logic explanation. Kamu bisa jelaskan dengan bukti yang konkrit dan alasan logis yang bisa diterima banyak orang. Kamu kumpulkan data, misal realisasi APBN dari tahun ke tahun dan jelaskan celah di mana kita bisa menekan biaya subsidi dll, lalu kamu jelaskan mengapa pendapatmu berbeda. It’s better to keep your opinion for yourself first than you have to spread your hatred with emotional opinion without doing any research on it.
Mungkin yang masih menjadi hot topic saat ini adalah upacara pembukaan Asian Games 2018 kemarin, ketika orang-orang memberikan apresiasi kepada negara kita yang tidak memalukan negara sendiri sebagai tuan rumah, warga net nyinyir soal stuntman dan lipsync Via Vallen saat menyanyikan theme song Asian Games. I mean, guys, mana yang lebih penting, stuntman atau rasa bangga kepada negara kita sebagai tuan rumah?. We did a great job for welcoming all the participants and served them with an amazing performance.
Di sini aku bukan pro jokowi atau pro prabowo (seperti yang deddy corbuzer bilang – you have to watch his video on his YouTube channel) karena bukan itu masalah yang diangkat di sini. Jujur aku ngga masalah dengan masalah yang diperdebatkan, whether it was stuntman or Mr. President itself, atau apapun itu masalahnya. Mau presiden nya siapa, mau pake stuntman atau tidak, mau lipsync atau tidak, no matter what it is, yang jadi masalah adalah bagaimana respon kita terhadap masalah tersebut. I just want to remind you, ketika kita bicara itulah yang menunjukkan kualitas kita. Garbage in garbage out. Air kopi dalam teko, ketika dituang tetap air kopi. Artinya, ketika kalian merespon akan suatu hal, itulah diri kalian. When your opinion was so shallow, then you are a superficial. Sorry. Jadi ketika kalian berbicara yang isinya sampah, artinya kualitas kalian adalah seperti …. (silahkan isi sendiri).
Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Siapa pun bisa berbuat salah. Because we are only a human and human do mistakes. We are also imperfect. We did mistakes. Sometime we are also being wrong. Melakukan kesalahan bukan berarti kesalahan. You can learn from it. Kita bisa belajar dari kesalahan yang kita lakukan. Dan dalam menyikapi kehidupan itu tidak ada yang mutlak kebenarannya. Yang ada adalah pilihan. We choose a choice and we responsible for it. Kita tahu kita melakukan kesalahan ketika kita sudah melakukannya.
Moreover, Perbedaan itu akan selalu ada. Toh Tuhan pun menciptakan kita tidak sama satu sama lain. Indonesia diciptakan Tuhan dari Sabang sampai Merauke dengan alam yang berbeda, budaya yang berbeda, agama yang berbeda dan karakter orang yang berbeda. Juga dalam pandangan politi, kita tidak akan pernah sama. Jadi tugas kita adalah bagaimana menyikapi setiap perbedaan yang ada.
Di sini aku mau mengajak para pembaca untuk memperbaiki sikap dan pola pikir kita saat ini terhadap semua hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Perbedaan agama, perbedaan pandangan hidup, perbedaan pandangan politik, semua perbedaan yang ada kita sikapi dengan lebih bijak. Mari kita merespon setiap masalah dengan lebih cerdas dan penuh dengan etika. Jika memiliki pendapat dan ingin menyampaikannya dalam media sosial, think about attitude. Sampaikan dengan bahasa yang sopan dan tidak asal berpendapat. Kedua, mari kita biasakan ‘mencari tahu’. Jangan mudah percaya dan terpengaruh dengan berita yang isinya ‘katanya’. Atau mudah percaya dengan berita yang hanya disebar lewat whatsapp atau medsos lainnya yang belum pasti kebenarannya. Biasakan mencari tahu dengan cerdas, memilah mana informasi yang valid dan mana informasi yang berisi hoax. So, opini kita lebih bermutu dan bisa dipertanggungjawabkan.
Let’s change our mindset! Nurture our attitude! and be a wise netizen 🙂

Standard
Books Review

Review Buku : The Subtle Art Of Not Giving A F*ck (Part 2) – [bahasa]

Halo everyone, it’s been months I’ve not written anything. As I promise I’m going to write second part of my ‘The Subtle Art of Giving a F*ck‘ review. Well actually I wrote the draft on my book but I postpone to publish it because I was distracted by another book (I will write the review also), so I am sorry.

FYI, di toko buku sudah ada lhoo terjemahannya, judulnya “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”. Tapi saya lebih senang membaca versi Bahasa Inggrisnya karena maksud dari penulis tersampaikan langsung tanpa ada saringan dari penerjemah. Singkatnya, feel-nya akan berbeda antara membaca buku terjemahan dengan membaca teks aslinya.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, this article was kind of a summary not a review. Lebih tepatnya apa yang dapat saya pelajari dari buku ini. So, pada part kedua ini saya akan sedikit mengubah gaya menulis saya. It is going to be less summary and I will write more flexible.  Let’s check it out 🙂

Untuk kalian yang belum membaca part pertama, you can click the link here.

Dalam review bagian kedua ini, saya akan mencoba untuk menjelaskan lima value yang Mark uraikan dalam lima chapter terakhir buku ini. Pertama adalah tentang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri kita, baik itu karena kesalahan diri kita sendiri, orang lain, atau pun takdir (artinya bukan kesalahan siapa pun. Kedua, mengakui adanya ketidakpastian. Ketiga, tentang kegagalan dimana kita harus memiliki keinginan untuk mencari tahu kekurangan kita dan apa yang harus kita perbaiki sehingga kita bisa menjadi lebih baik. Selanjutnya tentang penolakan, kita harus mampu berkata “tidak” atas apa yang kita tidak ingin terima. Dan yang terakhir adalah merenungi kematian diri kita sendiri.

You are Always Choosing

Pada chapter 5, Mark menceritakan kisah William James yang memiliki keterbatasan fisik dan hidupnya selalu diatur orang ayahnya. Hingga satu titik dimana ia berontak dan memilih untuk menjalani hidupnya tanpa mempedulikan apa yang ayahnya inginkan. He decided to responsible for his life. Apapun yang ia pilih untuk hidupnya ia akan lakukan dan menanggung semua resikonya.

We, Individually, are responsible for everything in our lives, no matter the external circumstances.

Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya, tidak peduli apapun yang terjadi di sekitar kita. Prinsip inilah yang dilakukan oleh William James. Baik atas kesalahan yang dilakukannya ataupun tidak, ia akan bertanggung jawab atas kehidupan yang ia pilih. Ia tidak memilih untuk terlahir tidak sempurna, tapi ia harus tetap menjalani hidupnya seperti orang lain. Ia pun memilih untuk drop out dari sekolah kedokteran di Harvard dan melakukan petualangan ke hutan Amazon, still he chose it and responsible of his choices. Ia tahu ayahnya akan marah dan memilih untuk tidak pulang ke rumah, lalu ia memilih itu. Ia menghadapi setiap resiko yang ia terima atas pilihan yang diambilnya.

Begitu pun dengan kita. Kita terlahir untuk selalu memilih dalam menjalani kehidupan kita. Kita selalu dihadapkan dengan pilihan setiap harinya. Kamu mau minum kopi atau teh? Kamu mau bangun pagi dan sampai di kantor tepat waktu atau kamu mau bangun siang dan sampai di kantor bos mu sedang menunggumu?.

Contoh lain adalah tentang fenomena Tik Tok yang terjadi akhir-akhir ini. Apakah aplikasi ini memang sebuah kesalahan? saya rasa tidak. Orang yang membuat aplikasi ini tentunya sangat kreatif dan ingin menjadikan karyanya memberikan manfaat kepada penggunanya, sebuah hiburan. Lalu kenapa pemerintah kita melarangnya?. Pengguna diberikan pilihan untuk menggunakan aplikasi ini, apakah untuk hiburan semata, atau menunjukkan kreativitas mereka, atau malah digunakan untuk hal-hal negatif yang tidak bermanfaat sama sekali. Pengguna yang tidak bertanggung jawablah yang membuat konten negatif dan tidak bermanfaat sama sekali. Mungkin bagi mereka hal itu adalah sebuah hiburan, tapi mereka tidak memikirkan dampak dari apa yang mereka lakukan. Sama halnya dengan situs tumblr yang juga diblokir oleh pemerintah.  

Dan ini adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak bisa menghindar dari pilihan. They always be there waiting for us, the endless queue of the choices. Unless you’re dead.

Lalu, bagaimana jika suatu hal terjadi bukan atas pilihanmu?. Misalkan, saat kamu menyebrang lalu sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi dan kamu tertabrak hingga kakimu patah dan selama dua bulan kamu harus mengenakan tongkat. Kamu kesulitan untuk berjalan dan tidak bisa bekerja sehingga kamu tidak bisa mendapatkan uang lembur padahal kamu sedang membutuhkan uang banyak untuk mengobati ibumu yang sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit gula. Is that your fault? Apakah tertabrak mobil adalah pilihanmu? tentu bukan. Yet, you have to responsible for what happened to your circumstances. Salah pengemudinya? ya, tapi dia hanya bertanggung jawab sampai pengobatanmu selesai tanpa memikirkan kalau kamu membutuhkan uang untuk ibumu. Sama hal nya ketika pelayan cafe dengan tidak sengaja menumpahkan kopi ke bajumu atau ketika seseorang mem-bully mu karena kamu memiliki badan yang besar.

Kita pun harus bertanggung jawab pada diri kita sendiri atas hal yang tidak kita inginkan. Karena kita diberikan pilihan bagaimana kita melihat suatu hal, bagaimana respon kita atas apa yang terjadi, dan bagaimana kita memaknai apa yang telah terjadi. Ketika seseorang mem-bully mu, kamu boleh memilih untuk tetap diam atau melawan. Jika kamu memilih untuk diam dan tidak mendengarkan mereka, konsekuensinya kamu harus tetap kuat mendengarkan apa yang mereka bicarakan tentangmu hingga mereka lelah melakukannya. Jika kamu mau melawan, perlawanan apa yang akan kamu berikan? apakah meninju mereka dengan kepalan tanganmu dan masalah semakin besar karena mereka balik meninjumu? atau kamu melapor ke pihak sekolah untuk memberi mereka pelajaran dan kamu akan dikatai tukang mengadu? atau kamu akan melawannya dengan menunjukkan prestasimu?

Ketika kita ditimpa masalah, tanpa disadari kita akan mencari tahu apa penyebabnya. Siapa yang salah sehingga kita mendapatkan masalah ini dan siapa yang harus bertanggung jawab atas kesialan kita. Dan tidak jarang kita menyalahkan orang lain atau keadaan di luar sana yang telah membuat kita menderita. Kita merasa diri kita lah yang paling menderita dan orang lain yang salah. Kita terus menyalahkan orang lain dan orang lain yang berada dipihak kita memberikan perhatian lebih kepada kita, and we enjoy it very much. We post it on instagram and people pay their attention to your feed without see clearly what happened actually. We called it ‘victim-hood chic’.

Back to the Tik Tok phenomenon. Netizen lebih banyak setuju jika aplikasi Tik Tok diblokir dan menganggap bahwa Tik Tok tidak berfaedah sama sekali. They focused on ‘banned thing’ rather than what is going on with the young generation. They focused on ‘what will Bowo does when Tik Tok is banned’ rather than ‘how to support young generation to be more creative without Tik Tok’. Bertanggung jawab atas diri sendiri jauh lebih penting dibandingkan menyalahkan orang lain/keadaan, karena dari sanalah kita belajar menghadapi kesulitan hidup dan tumbuh menjadi lebih dewasa. That’s where the real-life improvement comes from. Karena menyalahkan orang lain sama saja dengan menyakiti dirimu sendiri.

We’re Wrong about Everything

Mungkin kalian masih ingat tentang perdebatan bahwa bumi itu bulat. Atau teori yang menjelaskan bahwa bumi merupakan pusat tata surya dan matahari bergerak mengelilingi bumi. Ilmu pengetahuan berkembang setiap saat dan bisa berubah kapan pun. Apa yang kita yakini saat ini bisa saja salah di kemudian hari. Dahulu, semua orang meyakini bahwa tugas perempuan hanya mengurusi masalah dapur dan membesarkan anak. Perempuan tidak boleh bekerja dan harus tinggal di rumah. Peradaban semakin maju dan nilai yang ada di masyarakat pun bergeser. Perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki, tidak hanya mengurusi dapur dan membesarkan anak, tetapi juga berhak untuk bekerja dan mengembangkan potensi mereka.

Begitu pula dengan value yang kita yakini saat ini mungkin saja salah di kemudian hari. Tidak ada yang pasti kecuali hal itu sudah terjadi. So, we have to test our value. Dulu, kita akan berasumsi orang yang bertato adalah seorang preman dan orang jahat. Today, tattoos is an art. Siapa pun bisa memiliki tato, dan orang bertato belum tentu orang jahat. Contoh lain adalah value yang selama ini yang saya yakini, diam merupakan cara merespon orang yang menyebalkan. Ketika ada orang yang mengolok-ngolok saya, merendahkan saya atau menjelek-jelekan saya, cara saya merespon mereka adalah dengan diam. Tapi, ketika diam ternyata membuat orang yang menyebalkan itu semakin senang dengan perbuatannya, ternyata diam bukanlah jawaban yang benar. I have to speak out to defend myself, when what they did hurt my self-respect, morals, values and self-worth. Diam bukanlah respon yang tepat dalam kasus ini. So, I was wrong. Sama hal nya ketika kita menghadapi ketakutan kita. “Aku ngga bisa naik flying fox karena takut ketinggian dan aku bakal pingsan kalau naik flying fox” atau “Aku ngga bisa ngomong di depan banyak orang karena takut menjadi pusat perhatian. Aku pasti memalukan kalau aku tetap menjadi pusat perhatian”. Kita tidak tahu karena kita tidak pernah mencoba. Kita tahu persis jawabannya ketika kita sudah melakukannya.

Sejak kecil kita diajarkan untuk selalu yakin kepada diri kita supaya kita percaya diri. Tetapi, Mark Manson memiliki pemikiran lain. Justru kita harus mempertanyakan keyakinan itu kepada diri sendiri. Apakah yang saya yakini sudah benar? Bagaimana jika apa yang aku yakini memang salah? jika aku memang salah, hal terburuk apa yang akan terjadi padaku? Apa yang bisa aku pelajari jika aku memang salah? Setelah aku tahu aku salah, apakah aku akan menjadi lebih baik dibandingkan aku yang tidak melakukan kesalahan?. Dan saya rasa, dengan ada rasanya ingin tahu apakah kita salah atau benar, menghindari kita dari merasa paling benar karena kita yakin bahwa apa yang kita yakini mungkin memang salah.

Failure is The Way Forward

Kegagalan bukan akhir dari segalanya, ia adalah bagian dari sebuah proses. Ia adalah awal dari perjalanan kita. Ketika seseorang lebih baik dalam suatu hal dibandingkan dengan kita, artinya ia telah gagal lebih banyak dalam hal itu dibandingkan dengan kita. Misalkan, sahabatmu lebih lihai dalam mengendarai mobil dibandingkan denganmu. Artinya, ia berlatih lebih sering darimu dan mungkin menabrak sesuatu lebih banyak darimu. Atau kakakmu lebih pandai membuat kue dibandingkan denganmu, artinya ia telah berkali-kali melukai tangannya karena oven panas atau berkali-kali kue yang ia hasilkan tidak berbentuk. Jadi, jika kita ingin lebih baik dalam suatu hal bersiaplah untuk merasakan gagal. Bersiaplah untuk merasakan sakit karena gagal. Karena keduanya adalah bagian dari sebuah proses. Jika aku ingin menjadi penulis, aku harus siap tulisanku tidak dibaca orang. Jika kamu ingin menjadi public figure, artinya kamu harus siap untuk menjadi pusat perhatian dan semua tingkah lakumu akan selalu dikomentari setiap orang.

Akan ada masa dimana apa yang kita pikirkan terjadi sebaliknya. Kita berpikir bahwa jika kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, kita akan berhasil. Misalkan, saya kira dengan bermodalkan IPK 3.6 segala sesuatunya akan lancar. Pekerjaan akan mudah didapat dan orang akan selalu percaya pada kemampuan saya. Tapi apa yang terjadi justru sebaliknya. IPK bukan segala-galanya dan perlu usaha lain untuk meyakinkan orang tentang kemampuan saya. Berkali-kali saya ditolak dan berkali-kali saya direndahkan. It hurts a lot actually. Mungkin di antara kalian ada yang sedang memulai untuk berbisnis. Berkali-kali kalian rugi dan mungkin ditipu lalu terlilit hutang. Saya bukan pebisnis, tapi setidaknya saudara dan teman-teman saya berbisnis sehingga tau bagaimana rasa sakit dan stress nya dalam masa itu. Pernah kalian melihat petarung MMA berlatih? sangat berat dan begitu menyiksa. Moreover, when the competition comes, they have to fight. Mereka harus berdarah-darah untuk meraih gelar juara, untuk menjadi seorang profesional. Lalu bagaimana jika ia sudah berlatih dengan keras tetapi tetap kalah?. okay, dalam pertandingan kita selalu fokus kepada yang menang.

Ada part yang saya garis bawahi dalam chapter ini

If you’re stuck on a problem, don’t sit there and think about it; just start working on it. even if you don’t know what you’re doing, the simple act of working on it will eventually cause the right ideas to show up in your head.

Jadi, jangan menunggu motivasi untuk melakukan sesuatu. ketika gagal, lakukanlah sesuatu. Lakukan saja meskipun kita tidak tahu apa yang kita lakukan akan membawa kemana. lakukan saja meskipun kita tidak tahu apakah yang kita lakukan benar atau salah. Sama halnya ketika kita mengikuti kompetisi marathon. Ketika kita merasa lelah dan ingin menyerah, berlari lah,  atau mungkin berjalan lah. Meskipun kita tidak tahu kekuatan kita sebatas apa, berjalan lah. Just keep moving forward. Jika kalian suka menulis, lalu di satu titik kalian stuck, kehabisan ide dan tidak tahu mau menulis apa. Bangkitlah, nyalakan komputer kalian atau buka buku kalian. Menulis lah, meskipun kita tidak tahu apa yang kita tulis itu bagus atau tidak. menulis saja. Karena dari situ kita akan tahu kekuatan dari sebuah kata “Do something!”.

The Importance of Saying No

Sedikit berbeda dari tulisan lainnya saat menjelaskan tentang berkata tidak akan suatu hal. Berkata tidak bukan hanya pada ajakan orang lain melainkan kepada diri sendiri. Ketika kita memutuskan untuk mempedulikan suatu hal, artinya ada hal lain yang kita abaikan. Dalam kata lain, kita berkata tidak untuk hal yang tidak kita pedulikan, meskipun terkadang itu adalah hal yang baik.

We all must give a fuck about something, in order to value something. And to value something, we must reject what is not that something. To value X, we must reject non-X.

Ketika kita telah memilih sebuah pilihan (as you know that life is about choosing), kita harus menolak dan berkata tidak untuk pilihan yang tidak kita pilih. Mungkin akan mudah jika dicontohkan dalam bentuk barang. Tapi, saya akan mencontohkan hal yang lebih abstrak tetapi nyata. Kalian memilih untuk menjadi seseorang yang jujur ketika berinteraksi dengan orang lain. Artinya, kalian telah menolak untuk berkata bohong kepada lawan bicara kalian, whether it’s good or bad. Lalu, pada suatu hari seorang teman dekatmu bercerita padamu tentang masalah pekerjaannya dan meminta pendapatmu. Ia merasa atasannya terlalu demanding sehingga ia selalu mengerjakan banyak hal dan selalu lembur setiap hari. Kamu tahu bahwa sebenarnya temanmu lah yang senang menunda-nunda pekerjaan. Selalu datang telat dan menonton youtube saat jam kerja. If you choose your value, you’ll tell the truth to your friend. Kamu akan mengatakan yang sebenarnya dan menolak rasa tidak enak karena ia teman dekatmu. Meskipun pendapatmu akan melukai perasaannya, kamu akan tetap mengatakannya. Tetapi tidak sampai di sini saja, you have to set the boundaries. Kamu harus bisa menentukan batasanmu. Sejauh mana kamu terlibat dalam masalah dia. Membuat batasan juga salah satu bentuk berkata tidak. Your value is to tell the truth but you have to reject to judge your friend. Katakan pendapatmu dengan kejujuran meskipun kemungkinan temanmu tidak menerimanya. Tetapi kamu tidak berhak untuk memarahinya dan menyudutkannya, dan kamu pun tidak berhak untuk menyelesaikan masalahnya. Posisikan dirimu hanya sebatas pemberi pandangan lain, bukan sebagai hakim yang menghukumnya ataupun sebagai pahlawan yang akan menolongnya.

Dan menentukan batasan ketika kamu menolak sesuatu juga berlaku untuk dirimu. Dalam artian kamu berhak menolak orang lain untuk terlibat jauh ke dalam masalahmu. Jika posisinya dibalik, kamu yang memiliki masalah dan meminta pendapat temanmu, lalu temanmu menghakimimu, kamu berhak untuk mengatakan padanya bahwa kamu tidak suka kalau dia menyalahkanmu. Jika pada kenyataannya kamu salah, dan kamu mengakuinya, tapi kamu malu untuk mengakui kesalahanmu, kamu berhak menolak rasa malu kamu untuk mengakui kesalahanmu.

Ketika kita berkata tidak untuk suatu hal atau menolak suatu hal, tentunya ada orang yang akan tidak setuju dengan pendapat atau sikap kita. Lalu timbul yang namanya konflik.

Conflict exists to show us who is there for us unconditionally and who is just there for benefits

Jika temanmu menerima pandanganmu dengan hati lapang (meskipun ia tidak setuju denganmu) dan berterima kasih padamu dengan tulus, he/she is your true friend. Tetapi, jika ia tidak menerima pandanganmu dan menganggapmu sok tau, he/she is being there only for his/her benefit.

Selain konflik, hal lain yang timbul saat kalian telah memilih adalah komitmen. Komitmen pada suatu pilihan membuatmu fokus pada pilihanmu. Ketika kamu berkomitmen untuk selalu berkata dan bersikap jujur, kamu akan fokus untuk belajar menjadi seseorang yang jujur. Kamu akan menemukan bahwa bersikap jujur yang sebenarnya itu apa. Dan kamu akan menggali lebih dalam lagi tentang sebuah kejujuran.

… And Then You Die

This is about our legacy. Kita akan mati. Saya akan mati dan kamu pun akan mati. Setelah kita meninggal, apa yang ingin orang kenal tentang kita?. Saya tidak akan menjelaskan part ini dengan lugas. Cukup satu pertanyaan saja untuk menjelaskan bagian ini, “Apa yang akan orang kenang tentang saya ketika saya meninggal?”. So, do we have to give a f*ck about the unimportant and frivolous things just for we die?

Well actually these 5 values that Mark Manson delivered on his book are really important. Banyak kalimat yang saya ambil dari bukunya dan menerjemahkannya untuk kalian. Tidak menutup kemungkinan apa yang saya sampaikan ini salah karena tulisan ini adalah hasil interpretasi saya. Dan mungkin juga setelah kalian membaca bukunya sendiri kalian akan memiliki interpretasi yang berbeda dengan saya.

Semoga bermanfaat 🙂 dan jangan lupa untuk membaca teks aslinya!

Standard
Books Review

5 Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Buku : The Happiness Project by Gretchen Rubin

Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan kepada teman-teman insight yang saya dapatkan dari membaca buku yang ditulis oleh Gretchen Rubin, The Happiness Project. Buku in saya beli pada tahun 2016 dan buku ini adalah buku pertama dengan bahasa asing yang saya miliki. Sebenarnya, Saya membaca buku ini sejak pertama kali saya membelinya tetapi baru beberapa chapter saya baca, saya merasa malas untuk melanjutkannya (:p). As i said this book is my first English text book, jadi butuh effort yang sangat besar untuk membacanya. Terlebih lagi, Gretchen Rubin adalah penulis New York Times Bestseller dan karena pada saat itu saya masih belajar bahasa inggris (sampai sekarang juga masih belajar sih) jadi saya kesulitan dengan banyaknya istilah-istilah (vocabularies) yang saya tidak ketahui. So, it took a lot of time to read this book. Akhirnya saya simpan di rak buku saya dan baru saya buka lagi sekarang.

Jadi, dalam buku ini Gretchen Rubin menuliskan project dia selama satu tahun untuk menjalani hidup yang lebih bahagia. Konsep dari buku yang ia tuliskan ini seperti journal, dia menceritakan apa yang dia lakukan dan progress dari setiap aktivitas yang ia targetkan. Setiap bulannya ia memiliki tema yang akan dijadikan fokus self-improvement yang akan dia lakukan dan bagaimana ia menjalani perubahan itu dalam kesehariannya. So, Let’s see 5 things that we can learn from this book:

1. Happiness is being yourself

Dalam catatannya Grecthen menuliskan 12 aturan untuk dirinya sebagai landasan dalam melakukan suatu tindakan, yang ia sebut twelve commandment. Menurut saya kedua belas kalimat ini merupakan suatu bentuk afirmasi positif yang dia berikan kepada dirinya sehingga bisa menjadi salah satu sumber energi dan alasan kuat untuk bertindak. Dari kedua belas ini, salah satunya adalah “Be Gretchen”, ialah slogan yang ia gunakan untuk mengingatkan dia dalam mengambil tindakan agar menjadi dirinya sendiri. Seorang Gretchen itu harus bagaimana sih ketika menghadapi suatu hal.

Kita memiliki kekuatan dan kelemahan. Mana yang akan menjadi sumber kekuatan kita dan perlu dipupuk sehingga bisa mengubah hidup kita, dan mana kekurangan kita that we have to acknowledge it, the weakness that we have to embrace and accept. Karena tidak semua kelemahan harus kita ubah dan memiliki kelemahan adalah bagian dari diri kita. Memiliki kelemahan bukanlah sebuah kesalahan. So, tidak perlu meratapi kelemahan kita dan tidak perlu membenci kelemahan kita. Tapi kita harus tahu siapa diri kita dan ingin menjadi seperti apa diri kita.

Untuk bahagia, kita tidak harus selalu mengikuti apa yang orang lain lakukan. Karena setiap orang memiliki cara sendiri untuk bahagia dan memiliki sumber kebahagian yang berbeda. Sangat mungkin suatu hal bisa menjadi sumber kebahagiaan seseorang tetapi tidak bagi kita. Sumber kebahagian seorang introvert adalah menikmati waktu sendirian dengan membaca buku, menulis, atau mungkin berjalan-jalan sendiri keliling taman, tetapi untuk seorang extrovert hal itu akan sangat menyiksa dan sangat membosankan. Seorang extrovert akan lebih bahagia ketika ia bisa bertemu dengan banyak orang dan menghabiskan waktu bersama mereka.

I think by knowing who we are as people and being ourselves, we can start making the world better – unknown

Dengan menjadi diri sendiri, kita tahu apa yang membuat kita bahagia dan apa yang harus kita lakukan untuk bahagia.

2. Bahagia dengan hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita dan rasa syukur

Dari setiap cerita yang Rubin sampaikan, saya dapat menyimpulkan bahwa beliau bisa mendapatkan kebahagian dari apa yang ada di sekitarnya, dari hal-hal yang sederhana dan sering diabaikan. Seperti membereskan rumah yang berantakan, merapikan lemari, bermain bersama anak-anak, say “I love you” to your spouse, joking, laughing with your friends, tidur lebih awal, bangun pagi, berolah raga dan masih banyak lagi.

Kebahagiaan pun dapat kita peroleh dengan bersyukur atas apa yang kita miliki. Bersyukur karena masih memiliki orang tua, bersyukur masih bisa tertawa dengan teman-teman, bersyukur masih bisa makan makanan kesukaan kita, bersyukur karena kita masih bisa merasakan guyuran air hujan. Bukankah selalu menginginkan sesuatu membuat kita semakin khawatir tidak bisa mendapatkannya dan merasa tidak cukup dengan apa yang kita miliki?. So, you’ll feel not enough and want something more. Begitupun ketika kita memiliki hal yang melimpah dan berlebihan. Misalkan ketika seseorang kebanyakan uang sampai dia bingung mau dikemanakan dan dibelanjakan apalagi uang yang dia miliki. Ia membeli apa pun tanpa memikirkan apakah barang yang dia beli bermanfaat untuk dirinya dan berakhir menjadi tumpukan sampah atau barang-barang yang disimpan di gudang. Dengan bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki membuat semuanya menjadi ringan dan tentunya ketika kita merasa ringan kebahagiaan pun bisa kita rasakan.

3. Bahagia adalah akibat bukan sebab

Karena kita merasa bahagia kita melakukan sesuatu. Hari ini kita merasa bahagia. Lalu karena kita merasa bahagia kita pergi ke taman, berjalan-jalan sambil memakan ice cream vanila, menikmati pemandangan danau yang menyegarkan pikiran dan mata. You feel good so you want to do something good. Tetapi, ketika bangun kita sudah merasa buruk –karena sudah bekerja overtime dan merasa kelelahan– melihat kamar begitu berantakan dan di luar hujan, membuat kita malas untuk bekerja dan sangat malas untuk melakukan aktivitas apapun. When you feel bad you want to do nothing. Lalu kapan kita akan selalu merasa bahagia?

Bahagia itu akibat, bukan sebab. Karena kita melakukan suatu hal maka kita akan merasa bahagia. Ya, mungkin memang ada kalanya rasa bahagia itu datang dari luar diri kita, faktor eksternal. Misalnya mendapat kejutan dari teman spesial di hari ulang tahun kita, bisa menikmati sunset di pinggir pantai bersama orang yang kita kasihi, atau mungkin dengan melihat artis idola kita. Tapi tidak selamanya kita akan selalu mendapatkan hal yang menyenangkan.

Life is already suck. So, we have to make it better by being happier. Bereskan kamar kamu yang berantakan dan setelah melihat hasilnya kamu akan merasa bahagia. Kerjakan PR kamu, terlepas dari benar atau salah, at least you did it, you’ll feel at ease. Mandi dengan air hangat setelah bekerja seharian, that makes you feeling good. Do something then you’ll be happy.

Dalam hasil penelitian terdapat istilah Emotional Contagion atau Penularan Emosi, bahwa secara tidak sadar emosi itu menular. Setiap manusia memiliki kemampuan menerima emosi yang dirasakan oleh manusia lainnya. Jadi, tanpa disadari mood orang lain dapat mempengaruhi mood kita. Bahagia pun menular. Ketika kita bahagia maka orang lain di sekitar kita akan ikut bahagia. Begitupun ketika orang lain bahagia, kita juga ikut bahagia. Jadi, apa yang kita rasakan dapat mempengaruhi apa yang orang lain rasakan. Dengan berbahagia maka kita akan memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

4. Bahagia bukan berarti selalu bahagia. Untuk merasa bahagia dibutuhkan effort

Dalam bukunya, Rubin menjelaskan hal apa saja yang harus ia lakukan setiap bulannya untuk mendapatkan kebahagiaan. Semua to do list nya membutuhkan effort untuk menyelesaikannya. Sekilas hal-hal yang ia lakukan adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang istimewa, tetapi butuh effort yang besar untuk menyelesaikannya. Apakah bangun lebih pagi dan berolahraga rutin adalah mudah dilakukan? Saya rasa tidak. Selalu saja ada alasan untuk tidur lebih lama dan malas berolahraga. Apalagi jika hari sebelumnya kita harus bekerja lembur. Jadi, untuk bahagia dibutuhkan usaha.

5. Do your happiness project dan lakukanlah secara perlahan.

Tidak setiap orang memiliki sumber kebahagiaan yang sama dan untuk mengubah hidup tidak semudah memasak telur dadar. Ya, memasak telur dadar mudah bukan?

Tahun lalu saya membuat My own happiness project, tapi tidak berhasil. Kenapa? karena saya mencoba untuk mebuat perubahan pada kegiatan sehari-hari saya secara sekaligus. Mengubah satu habit saja susahnya minta ampun, apalagi jika semua kebiasaan saya harus saya ubah. Akhirnya saya memutuskan untuk memulai mengubah hidup saya dengan mengubah 3 habit saya; wake up early, sleep early, and weekly exercise. Meskipun belum berhasil seratus persen, setidaknya dengan fokus kepada 3 kegiatan tadi saya sedikit demi sedikit mulai bisa mengubah daily routine saya. Tapi sekali lagi, itu sangat tidak mudah. Meskipun hanya 3 habit yang ingin saya perbaiki, tapi sering sekali saya gagal dan harus mencobanya kembali.

Itulah lima hal yang saya dapatkan dari buku The Happiness Project by Gretchen Rubin. Sebenarnya banyak sekali insight yang saya dapatkan dari buku ini, tapi saya ingin merangkumnya hanya ke dalama lima poin. Jika belum puas, kalian bisa membaca buku aslinya. Kalau saya tidak salah, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tetapi saya lebih suka dengan teks aslinya yang berbahas Inggris. Kalian bisa mendapatkan buku ini di toko buku yang menjual buku Import misalnya di Gramedia, Aksara, WHSmith dsb. Jika kalian ingin membeli buku ini secara online, kalian bisa klik link di bawah ini:

  1. Amazon.com
  2. Bookdepository.com
  3. Books&beyond
  4. Opentrolley.com
  5. Periplus.com
  6. dll

Dan buat kalian yang senang mendengarkan Podcast, Gretchen Rubin memiliki channel di Podcast : Happier with Gretchen Rubin

IMG_2594

Selamat membaca!


The Happiness Project by Gretchen Rubin

January : Boost Energy – Vitality

  • Go to sleep earlier
  • Exercise better
  • Toss, restore, organize
  • Tackle a nagging task
  • Act more energic

February : Remember Love – Marriage

  • Quit nagging
  • Don’t expect praise or appreciation
  • Fight Right
  • No dumping
  • Give proofs of love

March : Aim Higher – Work

  • Launch a blog
  • Enjoy the fun of failure
  • Ask for help
  • Work smart
  • Enjoy now

April : Lighten up – Parenthood

  • Sing in the morning
  • Acknowledge the reality of people’s feeling
  • Be a treasure house of happy memories
  • Take time for projects

May : Be Serious About Play – Leisure

  • Find more fun
  • Take time to be silly
  • Go off the path
  • Start a collection

June : Make Time for Friends – Friendship

  • Remember birthdays
  • Be generous
  • Show up
  • Don’t gossip
  • Make three new friends

July : Buy Some Happiness – Money

  • Indulge in a modest splurge
  • Buy needful thing
  • Spend out
  • Give something up

August : Contemplate the Heavens – Eternity

  • Read memoirs of catasthrope
  • Keep a gratitude notebook
  • Imitate a spiritual master

September : Pursue a Passion – Books

  • Write a novel
  • Make time
  • Forget about result
  • Master a new technology

October : Pay Attention – Mindfulness

  • Meditate on koans
  • Examine true rules
  • Stimulate in new ways
  • Keep a food diary

November : Keep a Contented Heart – Attitude

  • Laugh out loud
  • Use good manners
  • Give positive reviews
  • Find an area of refuge

December : Boot Camp Perfect – Happiness

  • Boot camp perfect
Standard
Personal Stories

Changing (eng)

Life is about change. Sometimes it’s painful, sometimes it’s beautiful, but most of time it’s both – unknown

I found this quote on my Pinterest. It drew my attention and recalled my memories about what happened in my life. I thought about my childhood when I was innocent and always happy playing with my friends without thinking about what will happen if I do this and that. I imagined my laugh and how beautiful my smile without any burden in my mind when I was playing with my friend, my Mom and my Dad. I was so happy back then.

Then, I thought about my teenager life when everything started complicated. I entered one of the most popular junior high school in my town and met new friends there. Besides the good things happened, the bad things also happened to me. Bullying is something very common you met either it happened to yourself or to your friends. I didn’t realize that what happened to me was kind of bullying. But now when I think about it again it was a bullying. Well, verbally or physically, whatever it is, tradition of “melabrak” your friends is a bullying. Or, when you call me “gendut” or you call my friends “banci”, or you call us a loser for being honest, it is also a bullying. I still remember someone who asked a guy to flirt with me and she asked him to take advantage of me like copy my homework and make fun about me. Or someone who was belaboring me with a harsh words and threatening me by hitting and kicking the table in front of me just because they think that I took their boyfriend, seriously that was a silly reason to do something heartless like that. I still remember that incident and the people who did that to me. Honestly, I never did what they think. But, instead of being holding a grudge to them, I studied so hard so I can get a good grade in all subjects. And I did very well.

The most meaningful growing path is when I was in Senior High School. I have a lot of great friend and they are so positives. They gave me a positive vibes and energy so I was so happy to go to school and spent my time with them. I also had a good relationship with my senior and we have a good time to share our experiences. Yet, I think everybody on their teenager, my relationship with my Mom is not really good. We always fight about everything because we think that what we were doing is right. We always have a different thought even about something. Because I hate to argue and always end up the one who is crying, I hate to be blame,  I prefer to keep and do everything by myself. I never talk about what happened at the school, about my friends, especially when I was on my puberty. I was trying to solve every problem without their help. But everything was getting better since I was in the collage. Yup, I grew up and got maturer though I was still an emotional person. I was just an ordinary and nerdy student who loved to sit in front of the class and never skipped the lecture unless I had got a fever.

Let’s stop talking about that, now I wanna talk about the turning point of my life. The real life began when I was being a loser. Everybody did a good mistakes, so do I. Yes, a good mistakes means you did a mistake for good, for your growth and you happiness. I left my job, which I really love, over my curiosity. I felt unsatisfied about my situation. I wanted to do more than what I did. I’d rather to explore the outside of college and live in the real world. What was wrong is I left my job without a back up plan. I thought everything will be going smoothly as I plan, leave on and get a new job easily. Until I worked at my cousin company, as an accountant, which is the job I hate.

Actually, I started to feel depress when I failed many times on the job interview. I always being failed on it. I started to blame myself and wonder why I am so bad on this things. I felt hesitant about my ability than I started to underestimate it. The worst is I was insecure and not confident to face people, to deal with the world outside so I locked myself on my room and turned off my phone. I didn’t want to talk or met anybody. It happened for two or three months after I’ve left my job until I’ve got a call from a small company. I’ve got this job from my friend and I love to do it. I enjoyed and loved the job. I’ve got new friends and learn about coaching, which is so interesting and very helpful for my mental growth. But I only felt this enjoyment not more than five months. I had to get back to be accountant.

Mentally, I was going down and more depress. Doing the same things everyday is frustrated  me. Moreover, dealing with people who has different values and point of view, also we are not in the same page, was draining my energy and devastating. Sometimes, I wanna run away and live my own life without anyone interrupt my decision. It was driving me crazy. It made me overthink about everything, whether I worth for this life or not, or about future. I wished the earth swallowed me from the existence. Fortunately I never think to suicide or cut my vein on the wrist, just a huge of anxiety and fear of everything.

When I was really disappointed about my life and trying to get up from it, my friend suggest me to watch an inspiring video of Lavendaire by Aileen Xu, 23 habits of highly successful people, that made me think about my life and reconnected with everything I’ve done. I wrote the checklist on my note and marked on the matter I did not have. A while later, I found the main problem, not only inside me, such as my personality and mindset, but also outside me. I do not have support system which support me the most to live better. Yes I have my parents who live apart and we rarely on deep conversation. I do not have brother nor sister. I have best friends but they are married now and have their own life, and some of the work in another province. People on the workplace? please don’t ask about that, because that’s the problem.

I realized that I can not live like that forever. I have to move on and start my happy life. I started to watch more inspiring vlog, read more articles, searched for self-improvement books that will be helpful, and listened to TED podcasts. I want to change my life. I want to be happy. And the first thing to do is to change my mindset about my self. Do you wanna know what I say to my self to change my mindset about me? here it is what I say

I did mistakes. I am imperfect. And it’s okay because I am a human. I am worth for this life. I am worth to be happy.

I said it many times to myself. At the moment I feel better about me. I forgive myself about the past and think about future optimistically. But change mindset about myself is not enough, I have to do something to make my life happier. I scroll on my Instagram and found a quote

you'll never change your life until you change something you do daily. The secret of your success is found in daily routine.

Then I started to create my own happiness project. I tried to change my daily routine such as wake up early, do daily exercise, do my hobbies, meet new people and so on. But it failed because my motivations is so weak. I still hold on my failure and dwell on my past when I meet the adversity. I looked for many ways to deal with it. Until I found the most encouraging book about seeing problem in another way, The Subtle Art of Not Giving A F*ck by Mark Manson. It helps me to see a failure as a process of happiness. That having problem and failure is not horrible as we think. I tried so hard to get my life backs.

If you ask me “Are you the same person as you are one year ago?”, the answer is no. I changes every time. We change every time, every day, every second. Even it is not significant changing. Look, the pain changes you. The happiness also changes you. The problem that you face right now will change you. And changing is not bad because it is your choice. You decide to be who you want to be. And changing does not stop right now. It always happen and will be going to happen. I might be someone who can be bullied easily but not today, I am stronger now. Changing does not mean you change from one side to the other side, but you move from one side slightly closer to the other side. It doesn’t mean you change from an imperfect person to be a perfect person. I am still imperfect person. I am still grumpy person but less grumpy than yesterday. I am still insecure person but less insecure than yesterday. Changing is about process. I doesn’t happen in a glance. It needs effort and a huge of motivation. It needs some time to be done. Until you die, you are still changing.

 

(Pardon for my messy grammar :))

Standard